ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Kafein yang ada dalam kopi adalah mild diuretic yang dapat membuat eksresi tubuh lebih cair dari normalnya. Efek diuretik dari kafein bisa berbeda tergantung dari banyak faktor, seperti jenis kelamin, tingkat aktivitas, dan kebiasaan.
Selain itu, kafein juga memiliki efek pencahar pada orang-orang yang sensitif. Kimiawi yang ada pada kopi akan menstimulasi kontraksi otot di usus besar yang memiliki kemiripan dengan kontraksi yang terjadi sehabis makan.
William DePaolo, profesor mikrobiologi molekuler dan imunologi di Keck School of Medicine mengatakan bahwa kopi regular memiliki efek pencahar yang lebih besar daripada kopi tanpa kafein.
"Kopi juga memiliki sifat asam yang menyebabkan peningkatan produksi asam empedu dalam tubuh. Kopi menstimulasi kantung empedu untuk melepaskan empedu ke dalam usus dan menyebabkan diare," ucap William seperti dikutip dari The Huffington Post pada Jumat (12/6/2015).
Terlepas dari biji kopinya, pemanis, produk susu atau produk tambahan lainnya yang ada dalam kopi juga menambah tekanan pada usus peminum kopi.
"Pemanis dalam campuran kopi dapat menyebabkan kembung dan diare. Produk olahan seperti susu, krim, dan laktosa juga dapat menyebabkan diare dan keluhan perut," ujar ahli American Gastroenterological Assocation, Dr. Jay Kuemmerle dari Virginia Commonwealth University.
Namun tidak berarti Anda harus berhenti minum kopi ya. Anda tetap bisa mengonsumsinya dengan batas yang wajar yaitu tidak lebih dari dua atau tiga cangkir saja dalam sehari. Sebab, menurut International Foundation for Functional Gastrointestinal Disorders, meminum lebih dari dua atau tiga cangkir kopi dapat menyebabkan diare. Atau sebaiknya minumlah kopi tanpa kafein.
(Sumber: health detik)